Surat pertama untuk sahabat pena: enaknya nulis apa? (plus 12 kalimat pembuka)

Bukan soal hobimu. Cukup satu hal kecil yang benar-benar terjadi, susunan yang mudah dibalas, dan pintu di ujung surat.

SEP 22 · 2026 · 7 menit baca#surat pertama#panduan#menulis

Dari semua surat yang akan kamu tulis, surat pertama untuk orang asing yang paling sulit. Hampir semua orang menulis versi yang sama persis: Halo! Aku 29 tahun, dari Lisbon, suka hiking dan baca buku, lagi cari sahabat pena buat berbagi cerita soal hidup kita. Ceritain dong tentang dirimu!

Ramah. Sopan. Mustahil dibalas. Tak ada satu hal pun di dalamnya yang bisa dipegang pembacanya. Kalaupun dibalas, isinya surat yang sama, hanya nama kotanya yang diganti. Lalu surat-menyurat kalian berakhir baik-baik di surat kedua, dan kalian berdua sama-sama tak bisa bilang kenapa.

Ada cara lain.

Aturan satu hal kecil

Tulis tentang satu hal kecil yang benar-benar terjadi minggu ini. Bukan kisah hidupmu, cukup minggu ini saja. Teko listrik yang berbunyi klik, lalu tak ada yang datang. Toko roti di ujung gang yang kembali buka jam enam. Email yang mestinya kamu balas tahun 2021.

Kenapa cara ini berhasil? Alasannya nyaris memalukan untuk diucapkan: hal kecil yang nyata itu spesifik, dan hal yang spesifik bisa dibalas. Hobimu tidak bisa. “Aku suka baca buku” tidak memberi lawan bicaramu bahan apa-apa. “Aku namatin buku jam 2 pagi, terus rebahan sambil kesal sama ending-nya” sudah jadi bahan satu surat utuh.

Cara ini juga yang membuatmu terdengar seperti manusia, bukan iklan baris. Belum pernah ada orang yang keasyikan berbalas surat gara-gara membaca daftar minat.

Susunannya (empat bagian, semuanya pendek)

1. Mulai dari tengah. Tidak perlu Hai orang asing, apa kabar? Semoga kamu sehat-sehat saja di sana. Langsung masuk ke hal kecil itu. Teko listrik berbunyi klik, lalu tak ada yang datang. Pembacamu sudah ikut masuk ke dapurmu.

2. Ceritakan rasanya, bukan maknanya. Dua atau tiga kalimat saja. Jendelanya, cahayanya, bunyinya. Tahan keinginan untuk menjelaskan kenapa kamu menceritakannya. Kalau hal kecil yang kamu pilih sudah tepat, alasannya akan kelihatan sendiri.

3. Belokkan sedikit. Satu kalimat yang melangkah sedikit lebih jauh dari dugaan orang asing. Aku mulai suka dapur yang kosong, dan itu bikin aku cemas. Kalimat inilah yang membuat orang membalas. Bukan karena dramatis, tapi karena jujur, pendek, dan sebenarnya tidak harus kamu ucapkan.

4. Tutup dengan pertanyaan yang hanya bisa dia jawab dari hidupnya sendiri. Pagi di tempatmu baunya seperti apa? Satu pertanyaan saja. Taruh di paling bawah, di barisnya sendiri. Inilah pintunya.

Sudah, itu saja suratnya. Lima sampai sepuluh kalimat. Memikirkannya mestinya makan waktu lebih lama daripada menuliskannya.

Seberapa panjang idealnya?

Lebih pendek dari yang kamu kira, lebih panjang dari chat. Di Kindredly, surat yang tak ditujukan ke siapa-siapa minimal berisi satu baris sungguhan: dua puluh karakter, beberapa kata. Surat pertama yang baik biasanya di kisaran enam puluh sampai dua ratus kata. Cukup panjang untuk disebut surat, cukup pendek supaya membalasnya tidak terasa seperti mengerjakan PR.

Kalau menulis di kertas, cukup selembar, satu sisi saja. Kalau halaman baliknya sampai terisi, berarti kamu sedang menulis tentang dirimu sendiri, bukan untuk dia.

Dua belas kalimat pembuka yang dapat balasan

Pinjam satu. Ganti detailnya dengan detail hidupmu sendiri. Detail itulah suratnya.

  1. Teko listrik berbunyi klik, lalu tak ada yang datang.
  2. Hari ini akhirnya kubetulkan kursi yang goyang. Niatnya sudah dari bulan Maret.
  3. Ada satu orang yang berkali-kali hampir kukirimi pesan.
  4. Tanamanku mati, lalu aku menangis, tapi karena hal lain sama sekali.
  5. Hari ini aku tertawa di kantor, dan itu tawa sungguhan. Sudah lama aku tidak tertawa tanpa harus mengingatkan diri sendiri dulu.
  6. Kota ketiga tahun ini. Sekarang aku makin hafal teko ada di kardus yang mana.
  7. Pagi ini aku bikin teh cuma secangkir, untuk diriku sendiri, dan rasanya tidak tragis sama sekali.
  8. Aku punya playlist buat seseorang yang tidak tahu dirinya punya playlist.
  9. Tak ada yang pernah mewanti-wanti kalau pulih itu membosankan.
  10. Tahun ini aku mulai bilang tidak. Ternyata sebagian besar yang selama ini kupikul tidak menopang apa-apa.
  11. Aku cuma jujur lewat tengah malam, cuma lewat tulisan, dan cuma ke orang yang tidak kenal wajahku.
  12. Seandainya dulu email itu kubalas tahun 2021, apa sekarang aku ada di tempat lain?

Coba perhatikan: tak satu pun menyebut pekerjaan penulisnya.

Lima hal yang sebaiknya tidak ditulis

  • Umur dan kotamu di baris pertama. Biarkan dia tahu sendiri. Toh di platform yang bagus, dia memang tidak bisa menanyakannya.
  • “Ceritain dong tentang dirimu.” Itu bukan pertanyaan. Itu tugas.
  • Foto, atau minta foto. Kamu sedang mencari orang yang mau membalas surat, dan wajah tidak memberitahumu apa-apa soal itu.
  • Minta maaf soal tulisanmu. Maaf, bahasa Inggris bukan bahasa ibuku. Tak ada yang keberatan, dan kalimat itu malah memakan jatah kalimat terbaikmu.
  • Lebih dari satu pertanyaan. Dia akan menjawab yang paling mudah, lalu merasa tidak enak soal sisanya.

Lalu, apa selanjutnya?

Kalau lancar, dia akan menjawab pertanyaanmu, dan jawabannya jadi bahan surat keduamu. Tulis surat itu dengan cara yang sama: satu hal kecil yang kamu tangkap dari suratnya, satu hal kecil dari minggu ini, satu pertanyaan. Begitu terus. Kira-kira di kali kelima kalian berbalas surat, kamu akan sadar sudah lebih mengenal orang ini daripada sebagian orang yang kamu temui setiap hari, dan kamu harus memutuskan mau bagaimana. (Ada pertanyaan untuk momen itu juga.)

Kalau mau mengintip beberapa surat pertama dulu sebelum menulis, lima belas di antaranya ada di meja hari ini. Semuanya tanpa nama. Mana pun yang kamu ambil, surat itu ditulis untukmu.

Kindredly itu ruang kecil tempat orang asing saling berkirim surat: tanpa profil, tanpa wajah, dipertemukan lewat cara mereka menulis.

Mulai menulisLIHAT-LIHAT DULU ›

Bacaan lain di ruang ini